Direktori Inovasi
Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai
Nyaman Stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan) Dibalik Kocokan Arisan “Ibu”
Jenis Instansi: Kabupaten
Instansi: Pemerintah Kabupaten Bangka
UPP: Dinas Kesehatan
Wilayah: Bangka Belitung
Penghargaan: TOP 15 KHUSUS/2021
Tahun: 2021
Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Tag: kesehatan, sanitasi, jamban, pemberdayaan masyarakat
Inovasi ini berawal dari adanya KLB Diare 10 tahun yang lalu di satu desa ujung barat Kabupaten Bangka, penyebabnya adalah perilaku warga yang masih banyak buang air besar sembarangan. Dengan metode community-lead total sanitations, kaum ibu merasa terpicu untuk mengubah perilaku tersebut karena kaum ibu menyadari mereka adalah kelompok yang paling dirugikan akibat perilaku BABS, yakni selain ancaman penyakit juga ancaman binatang buas, nyamuk dan risiko pelecehan seksual saat melakukan BABS. Solusi pemecahan masalah yaitu melalui ARISAN JAMBAN SEDERHANA.
Keberhasilan inovasi ini direplikasi ke desa lainnya di Kabupaten Bangka yang disesuaikan dengan kondisi desa masing-masing namun peran perempuan sebagai natural leader tetap diutamakan. 1.031 unit jamban berhasil di bangun di 23 desa replikasi. Jika diasumsikan efisiensi Rp 3.000.000 per unit jamban, maka secara total kontribusi inovasi pada efisiensi anggaran pemerintah hingga Rp 3.093.000.000.
Dalam memastikan keberlanjutan inovasi selain merumuskan regulasi berupa 6 Perda terkait dan peningkatan kapasitas pelaku pemicuan, fasilitator Dinas Kesehatan juga memfasilitasi pengembangan inovasi dengan menggandeng pihak swasta seperti Baznas, Dandim, Bank Daerah, forum CSR, dan perguruan tinggi melalui MOU Pentahelix dengan mendorong munculnya pembagian peran dalam peningkatan cakupan jamban. Pihak perguruan tinggi sebagai pelaku pemberdayaan masyarakat, Dandim 0413 sebagai motor penggerak pembangunan jamban, dan Pihak Baznas, Bank Daerah, PT Timah, Forum CSR sebagai penyumbang dana khususnya untuk hibah jamban bagi penduduk berpenghasilan rendah.
Hasil inovasi adalah peningkatan cakupan jamban tahun 2020 mencapai 96,53% atau hanya 3,47% saja masyarakat yang masih BABS. Target SDGs ke-6, dengan demikian, akan tercapai. Selain itu, 53 desa/kelurahan telah mendeklarasikan sebagai desa/kelurahan ODF, menurunnya angka diare, malaria dan DBD sehingga menurunkan kerugian ekonomi sebesar 52,11% untuk diare, 99,82% untuk malaria, dan 61,94% untuk DBD, sehingga inovasi ini juga berkontribusi untuk pencapaian SDGs ke-3 dan ke-5 terkait kesetaraan gender. Inovasi ini juga berkontribusi dalam pencapaian target SDGs ke-1, 9, 10, 11, 12, 14, 16 dan Angka Harapan Hidup meningkat dari 67,64 pada tahun 2010 menjadi 71,06 pada tahun 2020. Indeks Pembangunan Manusia juga meningkat dari 70,0 pada 2010 menjadi 72,4 pada 2020.
Nilai tambah lainnya dari inovasi adalah kualitas interaksi sosial masyarakat meningkat, munculnya wirausaha sanitasi, kredit jamban, ajang promosi dengan banyaknya kunjungan studi tiru, peningkatan PAD dari sektor perhotelan dan pariwisata, Bangka eliminasi malaria dapat dipertahankan. Inovasi ini diikutsertakan di beberapa event nasional serta salah satu inovasi yang mewakili Indonesia di ajang UNPSA (United Nations Public Services Award) di Belanda tahun 2017.
Rumah Kedelai Grobogan
Jenis Instansi: Kabupaten
Instansi: Pemerintah Kabupaten Grobogan
UPP: Dinas Pertanian
Wilayah: Jawa Tengah
Penghargaan: TOP 15 KHUSUS/2021
Tahun: 2021
Kategori SDG’s: Tanpa Kelaparan
Tag: pemberdayaan masyarakat, pertanian, pembelajaran, pendidikan
Produk olahan kedelai yang beredar 92%-nya berbahan baku kedelai impor transgenik, termasuk tempe. Sangat disayangkan, makanan khas Indonesia warisan nenek moyang ini bahan bakunya justru berasal dari petani luar negeri. Dominasi kedelai impor menjadi salah satu sebab perkembangan kedelai lokal cenderung stagnan, termasuk di Kabupaten Grobogan.
Pemerintah Kabupaten Grobogan pada tahun 2013 berinisiatif mendirikan Rumah Kedelai Grobogan (RKG). Pada tahun 2017, RKG diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. RKG merupakan instalasi terpadu layanan publik one stop learning yang memberikan pelayanan informasi dan edukasi agribisnis kedelai lokal dari hulu sampai hilir. Unit pembelajaran yang ada di RKG meliputi Seed Center, Learning Center, Rumah Tempe Hygiena, Rumah Tahu Hygiena, Rumah Kemas, Promotion Center dan Soybean Resto. Proses edukasi dilakukan oleh coach yang tergabung dalam Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Green Soybean Center. Coach terdiri dari ahli kedelai, petani praktisi, dan pelaku industri olahan. Proses pelatihan menggunakan alat bantu modul elemen keterampilan dan praktek, dengan pembelajaran teori 25% dan praktik 75%.
Rumah Kedelai Grobogan saat ini menjadi role model pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia. Penerima manfaat pelayanan RKG meliputi petani, UMKM, akademisi, dan masyarakat umum. RKG telah melakukan edukasi kepada 269 kelompok di Kabupaten Grobogan. Sampai saat ini, penerima manfaat RKG berasal dari 12 provinsi dan 25 kabupaten di Indonesia.
Keberadaan RKG memberi dampak positif. Jumlah penangkar benih kedelai meningkat dari 10 (2013) menjadi 28 penangkar (2021). kebutuhan benih kedelai nasional 60% dipenuhi oleh penangkar benih kedelai di Kabupaten Grobogan. UMKM olahan kedelai lokal yang dibina meningkat dari 8 (2019) menjadi 58 UMKM (2021). RKG telah menginspirasi Kementerian Pertanian melakukan branding kedelai lokal non GMO dengan label GREATS (Gurih Renyah Enak Aman Tanpa GMO Sehat) pada tahun 20
Untuk keberlanjutan ke depan, saat ini RKG sedang mengembangkan inovasi-inovasi baru untuk meningkatkan materi pembelajaran. RKG sedang mengupayakan peningkatan kedelai Varietas Grobogan dengan melakukan pemuliaan untuk menghasilkan varietas baru yang lebih unggul, yaitu kedelai Varietas Grobogan Super. RKG juga menumbuhkan korporasi petani PT Kedelai Aji Grobogan, dan bersama UMKM Hidayat Jati Research Center telah berinovasi membuat olahan tempe super instan yang memiliki keunggulan daya simpan lebih lama. Edukasi sistem tanam “kedelai methuk jagung” mengembangkan kedelai tanpa mengubah komoditas utama, yaitu jagung, telah meningkatkan Indeks Pertanaman, pendapatan petani, kesuburan tanah, serta menghemat pupuk, waktu tanam, dan tenaga pemeliharaan. Edukasi terhadap pengrajin tempe/ tahu, telah meningkatkan pemakaian kedelai lokal sebagai bahan baku dan konsumsi kedelai non GMO yang lebih aman bagi kesehatan.
