07 May, 2026

Direktori Inovasi

6 mins read

Ketik kata kunci untuk mencari inovasi yang sesuai

Pencarian Inovasi

654

PELITA SI ABAH (Pemanfaatan Limbah Tahu sebagai Alternatif Bahan Bakar Murah dan Ramah Lingkungan)

Jenis Instansi: Kota

Instansi: Pemerintah Kota Probolinggo

UPP: Dinas Lingkungan Hidup

Wilayah: Jawa Timur

Penghargaan: TOP 99/2021

Tahun: 2021

Kategori SDG’s: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan

Tag:

Pabrik Tahu pada umumnya adalah industri berskala UKM. Sebagai industri berbasis bahan makanan, pabrik tahu pasti menghasilkan limbah organik. Sejumlah pabrik tahu di Kota Probolinggo membuang limbahnya langsung ke Sungai Kedunggaleng, dikarenakan untuk membangun IPAL memerlukan biaya yang mahal. Akhirnya limbah tahu kerap dituding menjadi penyebab pencemaran sungai. Hal ini dibuktikan dengan Dokumen IKPLHD 2019 bahwa Sungai Kedunggaleng diketahui “tercemar ringan”. Selain itu timbulnya bau tidak sedap juga mendapatkan protes dari warga sekitar dan LSM.

Limbah tahu sebenarnya memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai biogas karena kandungan gas metane yang tinggi. Untuk itu Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo berinisiatif melakukan pengolahan limbah tahu menjadi biogas, melalui Inovasi PELITA SI ABAH (Pemanfaatan Limbah Tahu sebagai Alternatif Bahan Bakar Murah dan Ramah Lingkungan). Bekerjasama dengan BPPT yang memiliki teknologi dan pemilik pabrik tahu sebagai pemilik lahan, DLH menyediakan anggaran untuk pembangunan fisik IPAL dan mensosialisasikan kepada warga sekitar.

Untuk tahap pertama PELITA SI ABAH diterapkan di Pabrik Tahu Proma pada tahun 20Untuk melibatkan masyarakat dalam inovasi ini DLH membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang terdiri dari warga pengguna biogas untuk menghimpun iuran dari warga sebesar Rp 20.000/ bulan sebagai biaya pengembangan dan pemeliharaan jaringan biogas.

Di Pabrik Proma dari semula 25 pengguna yang instalasinya dibiayai pemerintah, saat ini sudah berkembang menjadi 46 pengguna dengan biaya swadaya. Selain itu PELITA SI ABAH sudah diterapkan di Pabrik Tahu Sumber Baru sebanyak 47 pengguna dan Pabrik Tahu Asri sebanyak 48 pengguna.
PELITA SI ABAH memiliki unsur kebaruan yaitu
Reaktor dan gas storage disusun sedemikian rupa sehingga tekanan gas stabil dan gas storage juga berfungsi sebagai tutup reaktor
Mempunyai alat pembuangan gas otomatis
Desain water trap dibawah tanah sehingga air yang terperangkap dapat terbuang otomatis agar tidak mudah buntu
Pelibatan peran masyarakat sehingga semakin lama peran pemerintah semakin kecil.

Sedangkan keunggulannnya adalah tekanan gas stabil, pemeliharaannya mudah, kebutuhan lahan relatif lebih kecil dan biaya perawatan/operasional sangat minimalis. Hadirnya PELITA SI ABAH mampu memberikan manfaat berupa perbaikan kualitas air limbah yang dibuang langsung ke sungai, sehingga menurunkan beban pencemaran air sungai. Selain itu juga mendukung terwujudnya kemandirian energi bagi warga sekitar yang murah dan ramah lingkungan dan meningkatkan kapasitas para pelaku UKM Pabrik Tahu karena dapat mengolah limbah sesuai regulasi.

Untuk mewujudkan keberlanjutan dan repilkasi inovasi Pelita Si Abah, Pemerintah Kota Probolinggo menerbitkan Peraturan Wali Kota Probolinggo Nomor 75 tahun 2017 tentang Replikasi PELITA SI ABAH di Kota Probolinggo.

Gerakan Bersama Kita Mencegah, Menanggulangi, dan Mengobati (GERBEK MELATI) Penyakit Tidak Menular di Wilayah Puskesmas Mangunsari

Jenis Instansi: Kota

Instansi: Pemerintah Kota Salatiga

UPP: Dinas Kesehatan

Wilayah: Jawa Tengah

Penghargaan: TOP 99/2021

Tahun: 2021

Kategori SDG’s: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Tag: jemput bola, pelayanan kesehatan, puskesmas, kesehatan

Permasalahan saat ini yaitu terjadinya perubahan pola penyakit dari penyakit menular menuju penyakit tidak menular. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan penyebab kematian tertinggi disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, stroke, gagal ginjal, dan kanker. Prevalensi PTM Kota Salatiga yaitu stroke (0,24%), diabetes melitus (2,15%), dan hipertensi (4,6%). Sementara pelayanan kesehatan tiga indikator SPM rendah yaitu yankes usia produktif (4,24%), yankes penderita hipertensi (30,23%), yankes penderita diabetes Melitus (31,15%). Upaya mengatasi masalah dengan inovasi Gerakan Bersama Kita Mencegah Menanggulangi dan Mengobati (GERBEK MELATI) Penyakit Tidak Menular.

Kebaruan pelaksanaan inovasi Gerbek Melati yaitu melalui skrining melibatkan stakeholder bidang kesehatan dan non kesehatan. Nilai tambah pelaksanaan inovasi adalah sistem “jemput bola”. Keunikannya yaitu dilaksanakan tiap-tiap RW dan membudayakan germas yaitu senam sehat, jalan sehat, penyediaan makanan bergizi, kampanye GERMAS, dan adanya pojok edukasi dan konsultasi hasil skrining. Kecepatan penyelesaian masalah pelayanan skrining usia produktif sebelum pelaksanaan inovasi 4,24% dan meningkat tahun 2020 menjadi 20,71%. Pada masa pandemi COVID-19 kegiatan yang berkaitan dengan GERMAS yang memungkinkan terjadinya kesulitan dalam pengawasan kegiatan karena kerumunan masyarakat ditiadakan dan fokus pada upaya Komunikasi, Informasi dan Edukasi GERMAS (KIE GERMAS) melalui siaran keliling, peningkatan kapasitas kader dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Evaluasi dampak inovasi dilakukan secara berkala oleh Puskesmas Mangunsari melalui: 1) Minilok bulanan puskesmas, 2) Minilok triwulanan dengan Linsek, 3) Musyawarah Masyarakat Desa. Evaluasi pelaksanaan inovasi Gerbek Melati menggunakan indikator capaian SPM yankes usia produktif 15-59 tahun, prevalensi hipertensi dan obesitas. Hasil evaluasi sebelum dan setelah Inovasi Gerbek Melati yaitu dari 4,24% tahun 2018 menjadi 10,22% tahun 2019, dan 20,71% tahun 2020. Selain itu 3 pilar promosi kesehatan (Advokasi, Bina Suasana, dan Gerakan Masyarakat) berjalan baik .

Untuk menjaga keberlanjutan inovasi, Puskesmas Mangunsari memiliki berbagai strategi yang telah dilakukan:
Berpegang pada amanat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan;
SOP yang mengatur tata cara/ prosedur pelaksanaan Gerbek Melati.
Menjalin kerjasama dengan stake holder.
Ada dukungan penuh dari warga.
Pelatihan kader; dan
Peningkatan kapasitas manajerial Kepala Puskesmas.

Inovasi Gerbek Melati sudah direplikasi semua puskesmas dan instansi sektor kesehatan di Kota Salatiga seperti KUDASAKU Puskesmas Tegalrejo, Posbindu Adhyaksa Kejaksaan Negeri Salatiga, Posbindu Unza Vitalis. Inovasi ini berpotensi direplikasi daerah lain dengan permasalahan sama seperti penyakit diabetes usia >15 tahun di Kabupaten Pati (3,11%), Kota Tegal (3,66%), Kota Surakarta (3,73%). Penyakit hipertensi di Kota Tegal (18,64%), Kota Magelang (17,44%), dan Kabupaten Jepara (18,07%).