    {"id":806,"date":"2018-10-09T00:49:25","date_gmt":"2018-10-08T17:49:25","guid":{"rendered":"https:\/\/jpipnetwork.id\/?p=806"},"modified":"2022-08-16T10:13:08","modified_gmt":"2022-08-16T03:13:08","slug":"buka-harapan-pacu-spirit-berubah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jpipnetwork.id\/?p=806","title":{"rendered":"Buka Harapan, Pacu Spirit Berubah"},"content":{"rendered":"<h2><strong>Semangat Membangun Diri Difabel dalam Magang Kerja Inklusif<\/strong><\/h2>\n<h5><strong>Mengikuti pemagangan, para difabel ini menemukan harapan mengejar impian. Ada yang harus menunda ikut Asian Para Games 2018. Berikut penuturan mereka kepada Ahmad Faizin Karimi dari JPIP.<\/strong><\/h5>\n<h3><strong>Makin Paham Makna Disiplin<\/strong><\/h3>\n<p><strong>DAFFA<\/strong> Kelana Prakhas Melayu mengalami perubahan karakter positif berkat Ayo Inklusif!. Jika sebelumnya remaja 19 tahun itu merasa kekanakkanakan, sekarang dia menjadi lebih bertanggung jawab pada dirinya. Maklum, Daffa adalah peserta termuda di antara kader progresif (pro-generasi kerja inklusif ) Ayo Inklusif!.<\/p>\n<p>\u201dPerubahannya banyak saya rasakan. Terutama soal kedisiplinan, ya. Jika sebelumnya bangun selalu siang, sekarang bangun lebih pagi karena dia harus magang kerja. Ya, seperti sudah mengerti kalau waktunya kerja&#8230;\u201d terang Lilik Farida, 50, ibu Daffa.<\/p>\n<p>Pendewasaan remaja penyuka kuliner lele penyet itu tidak terlepas dari didikan tegas Dian Ummu Abdullah, pemilik Fast Bengkel tempat Daffa magang. \u201dMemang kalau dari segi kemampuan, masih perlu ditingkatkan. Tapi, kami menempatkan Daffa dan memosisikannya sebagai asisten teknisi dulu. Dan soal <em>attitude<\/em> (sikap, Red), si Daffa juga kami benahi,\u201d ujar perempuan bercadar itu.<\/p>\n<p>Daffa adalah seorang difabel wicara. Kalau bicara, suaranya tidak jelas terdengar. Pada saat kelas XI SMA, Daffa tidak mau melanjutkan sekolah gara-gara bergaul dengan teman-temannya yang tidak baik. Dia juga menjadi sulit di atur. Karena itulah, bagi Farida, perubahan sikap Daffa sangat membahagiakan.<\/p>\n<p>\u201dDi tempat kerjanya, dia diwajibkan makan pakai tangan kanan. Jadinya, dia juga membiasakan diri. Sebelumnya, dia pakai tangan kiri karena kidal. Yang menyuruh atasannya. Jadi, walau susah, dia berusaha,\u201d lanjut Farida, yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek <em>online<\/em>. \u201dDia jadi lebih banyak di rumah dari pada keluyuran dengan temannya yang tidak jelas,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p>Ditanya apakah nyaman dengan pekerjaan di bengkel, remaja penghobi futsal dan basket itu merasa gembira dengan aktivitas barunya. \u201dSenang di bengkel. Kalau diajari, saya mau terus (kerja di bengkel, Red). Nggak berat karena pakai alat semua,\u201d katanya dengan pengucapan terpatah-patah saat di temui di bengkelnya di daerah Jemur sari (26\/9).<\/p>\n<p>Daffa menyiapkan diri untuk menjadi lebih dewasa, disiplin, dan bertanggung jawab. Mungkin menjadi asisten teknisi terkesan remeh. Namun, bagi Daffa dan ibunya, perubahan itu membawa harapan baru. \u201dSetelah Ayo Inklusif!, Daffa akan saya sekolahkan lagi,\u201d kata Farida. (*)<\/p>\n<h3><strong>Semangat dari Keluarga<\/strong><\/h3>\n<p><strong>MOHAMAD<\/strong> Reza Pahlevi tanpa kesulitan mengentri data-data penelitian ke dalam lembar kerja komputer di depannya. Sarjana pendidikan bahasa Inggris dari Universitas Brawijaya Malang itu tengah merangkum data penelitian. Pemuda yang lulus pendidikan S-1 pada 2017 itu magang sebagai asisten editor di jurnal ilmiah <em>Masyarakat, <\/em><em>Kebudayaan, dan Politik<\/em> (MKP) FISIP Unair. Selain me-<em>review<\/em> artikel jurnal, dia membantu para dosen membuat laporan penelitian.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"809\" data-permalink=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/?attachment_id=809\" data-orig-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Mohamad-Reza-Pahlevi-Tunadaksa.jpg\" data-orig-size=\"596,1239\" data-comments-opened=\"0\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}\" data-image-title=\"Mohamad Reza Pahlevi Tunadaksa\" data-image-description=\"\" data-image-caption=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Mohamad-Reza-Pahlevi-Tunadaksa-144x300.jpg\" data-large-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Mohamad-Reza-Pahlevi-Tunadaksa-493x1024.jpg\" class=\" wp-image-809 alignleft\" src=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Mohamad-Reza-Pahlevi-Tunadaksa-144x300.jpg\" alt=\"\" width=\"292\" height=\"609\" \/>Reza adalah difabel daksa. Tubuh bagian bawah mulai pinggang hingga kakinya tidak berfungsi karena kerusakan saraf akibat kecelakaan saat masih SMA. Mengakibatkan sosok 27 tahun dari Ngadiluwih, Kediri, itu tidak bisa menggerakkan kedua kaki.<\/p>\n<p>\u201dDua tahun pertama terasa berat. Saya tidak bisa melakukan apa-apa. Baru di tahun 2011 itu saya bisa duduk dan pakai kursi roda. Alhamdulillah, kini bisa berjalan dengan bantuan <em>walker<\/em> (alat bantu jalan dengan empat kaki sebagai tumpuan, Red),\u201d terang Reza kepada JPIP di gedung FISIP Unair (3\/10).<\/p>\n<p>Namun, semangat Reza untuk mandiri cukup tinggi. Dia tetap memaksakan diri untuk melanjutkan sekolah. \u201dSaya belajar dari rumah. Akhirnya lulus meski sangat berat,\u201d ujar Reza.<\/p>\n<p>Reza terus berusaha mandiri. \u201dSaya sempat buka warung kopi di desa. Namun, kurang berkembang,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Semangat Reza didorong kondisi keluarganya. Ayahnya, Muhammad Taufiq, pensiun dari PT Rukindo pada 2015. Sebagai anak pertama di antara lima bersaudara, Reza ingin mandiri, bahkan membantu keuangan keluarga. <strong>(*)<\/strong><\/p>\n<h3><strong>Selaraskan Hobi dan Cita-Cita<\/strong><\/h3>\n<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"808\" data-permalink=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/?attachment_id=808\" data-orig-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Ika-Aprilia-Dewi-Tunadaksa.jpg\" data-orig-size=\"990,558\" data-comments-opened=\"0\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"Ika Aprilia Dewi Tunadaksa\" data-image-description=\"\" data-image-caption=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Ika-Aprilia-Dewi-Tunadaksa-300x169.jpg\" data-large-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Ika-Aprilia-Dewi-Tunadaksa.jpg\" class=\"wp-image-808 aligncenter\" src=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Ika-Aprilia-Dewi-Tunadaksa-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"516\" height=\"291\" srcset=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Ika-Aprilia-Dewi-Tunadaksa-300x169.jpg 300w, https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Ika-Aprilia-Dewi-Tunadaksa-768x433.jpg 768w, https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Ika-Aprilia-Dewi-Tunadaksa-816x460.jpg 816w, https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Ika-Aprilia-Dewi-Tunadaksa.jpg 990w\" sizes=\"auto, (max-width: 516px) 100vw, 516px\" \/>IKA<\/strong> Aprilia Dewi hanya bisa menyaksikan perhelatan Asian Para Games 2018 dari layar televisi. Atlet renang difabel itu tidak bisa bergabung dengan teman-temannya untuk bertanding. Sebab, saat pemusatan latihan, Ika sedang menjalani penyembuhan setelah operasi lutut di RS Al Hu da, Banyuwangi.<\/p>\n<p>\u201dKemarin itu operasi lutut agar bisa menekuk. Untuk lutut kaki kiri, operasinya berhasil. Namun, yang kanan masih belum bisa. Jadi, setelah Ayo Inklusif! akan coba operasi lagi,\u201d katanya ke pada JPIP (1\/10).<\/p>\n<p>Namun, ketidakikutsertaan dalam Asian Para Games tidak membuat gadis 22 tahun itu terlalu bersedih. Sebab, dia malah bisa mengikuti program-program Ayo Inklusif! yang membuka jalan baginya untuk mewujudkan cita-cita. \u201dRenang itu hobi saya. Tapi, cita-cita saya menjadi seorang penyiar radio,\u201d ujar kader progresif yang masih duduk di kelas X SMALB Adelwis, Banyuwangi, itu.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"810\" data-permalink=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/?attachment_id=810\" data-orig-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/quote-ika.jpg\" data-orig-size=\"468,547\" data-comments-opened=\"0\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"quote ika\" data-image-description=\"\" data-image-caption=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/quote-ika-257x300.jpg\" data-large-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/quote-ika.jpg\" class=\" wp-image-810 alignleft\" src=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/quote-ika-257x300.jpg\" alt=\"\" width=\"185\" height=\"216\" srcset=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/quote-ika-257x300.jpg 257w, https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/quote-ika.jpg 468w\" sizes=\"auto, (max-width: 185px) 100vw, 185px\" \/>Berkat Ayo Inklusif!, dia bisa magang di <em>Jeje Radio<\/em>. Dia juga telah merasakan menjadi narasumber <em>talk show<\/em> di radio Suara Surabaya.<\/p>\n<p>Atlet dari Sukomaju, Srono, Banyuwangi, tersebut telah mengukir banyak prestasi. Dia meraih medali emas Kejurnas National Para lympic Committee (NPC) 2015 di Solo, peringkat V ASEAN Para Games di Singapura, medali emas Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) di Jawa Barat pada 2016, dan peringkat IV ASEAN Para Games Kuala Lumpur pada 2017.<\/p>\n<p>\u201dSaya sedih, <em>sih<\/em>. Tapi, juga ikut senang melihat teman-teman atlet mendapat medali untuk Indonesia. Karena kita itu satu tim, Indonesia,\u201d lanjut putri Nursaleh dan Halimah tersebut.<\/p>\n<p>Ika membawa semangat Asian Para Games kepada kader Ayo Inklusif!. \u201dMereka bisa terinspirasi, muncul keingintahuan, dan bisa jadi ada keinginan (untuk mencoba jadi atlet, Red),\u201d kata Ika. <strong>(www.jpipnetwork.id)<\/strong><\/p>\n<p>Arsip PDF :\u00a0<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semangat Membangun Diri Difabel dalam Magang Kerja Inklusif Mengikuti pemagangan, para difabel ini menemukan harapan mengejar impian. Ada yang harus menunda ikut Asian Para Games 2018. Berikut penuturan mereka kepada Ahmad Faizin Karimi dari JPIP. Makin Paham Makna Disiplin DAFFA Kelana Prakhas Melayu mengalami perubahan karakter positif berkat Ayo Inklusif!. Jika sebelumnya remaja 19 tahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":811,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[38,1,34,12,7],"tags":[54,56,58,123,119,121,60],"class_list":["post-806","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ayo-inklusif","category-umum","category-otonomi-update","category-pelatihan-dan-seminar","category-publikasi","tag-ayo-inklusif","tag-jpip","tag-mitra-kunci","tag-psld-universitas-brawijaya","tag-saujana","tag-united-tractors","tag-usaid"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Daffa-Kelana-Tunawicara.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/806","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=806"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/806\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":889,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/806\/revisions\/889"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/811"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=806"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=806"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=806"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}