    {"id":1252,"date":"2014-05-07T00:49:54","date_gmt":"2014-05-06T17:49:54","guid":{"rendered":"https:\/\/jpipnetwork.id\/?p=1252"},"modified":"2022-10-27T13:25:24","modified_gmt":"2022-10-27T06:25:24","slug":"solusi-dari-betah-mendengar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jpipnetwork.id\/?p=1252","title":{"rendered":"Solusi dari Betah Mendengar"},"content":{"rendered":"<h2>Open Government Partnership Asia-Pacifi c, 6-7 Mei 2014<\/h2>\n<h5><em>Mengeratkan keterbukaan agar menjawab permasalahan konkret masyarakat kian jadi tuntutan. Ada empat ciri pemerintah terbuka. Berikut laporan dari Konferensi OGP di Bali kemarin.<\/em><\/h5>\n<p><strong>NAMANYA<\/strong> memang Open Government Partnership (OGP) atau Kemitraan Pemerintahan Terbuka. Namun, selain wakil pemerintah, dalam organisasi ini ada \u201dwakil\u201d warga, yakni <em>civil <\/em><em>society organization<\/em> (CSO) atau organisasi masyarakat si pil. Bila dari sisi pemerintah ketua OGP adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebabnya adalah Indonesia saat ini menjabat sebagai ketua organisasi yang kini beranggota 64 negara ini. Dari sisi CSO, ketuanya adalah Rakesh Rajani.<\/p>\n<p>Dalam pembukaan Konferensi OGP Regional Asia Pasifik di Nusa Dua, Bali, kemarin (6\/5), Rakesh memberikan sambutan lebih dulu daripada SBY di hadapan sekitar 500 delegasi. Dia adalah pemimpin LSM di Tanzania bernama Twaweza, bahasa Swahili yang artinya \u201dKita Bisa Membuatnya Terjadi.\u201d Rakesh Rajani dengan \u201dbahasa rakyat\u201d mengenalkan empat ciri pemerintahan terbuka, sekaligus memberikan contohnya.<\/p>\n<p>Ciri pertama, kata Rakesh, adalah pemerintah yang mendengarkan (<em>listening government<\/em>). Pemerintah mau mendengarkan suara dari banyak kalangan rakyat, termasuk dari nelayan, sopir bus, koki, dan banyak kalangan lain. Dia menyebut beberapa contoh, antara lain, SBY yang bersedia membuka komunikasi lewat <em>Twitter<\/em> dan <em>Facebook<\/em>.<\/p>\n<p>Pemerintah yang menginformasikan dan mendidik (<em>inform <\/em><em>and educate<\/em>) disebut Rakesh sebagai ciri kedua pemerintahan terbuka. Pemerintah menginformasikan tindakan yang dilakukan dan tidak dilakukan. Mereka juga berupaya melaksanakan apa yang direncanakan. Menginformasikan ini bisa sangat sederhana. \u201dSeperti menggambar, ya menggambar, anggaran publik di tembok,\u201d kata master dari Harvard University ini.<\/p>\n<p>Ketiga, kata Rakesh, pemerintah yang terbuka selalu berhubungan erat dengan warga (<em>engagement with citizen<\/em>). Dia memberikan contoh banyak perkembangan terkait dengan partisipasi masyarakat ini di beberapa negara. Misalnya, di Filipina pemerintah mengajak warga untuk terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur.<\/p>\n<p>Tokoh yang berlatar keilmuan teologi pembebasan ini menyebut ciri keempat pemerintahan yang terbuka adalah melindungi semua masyarakat (<em>protect all <\/em><em>people<\/em>). Tak hanya kepada kaum minoritas, kata Rakesh, pemerintah juga wajib melindungi orang yang mengkritik, <em>whistle blower<\/em>, dan orang yang tak setuju dengan pemerintah. \u201dMelindungi orang yang berbeda pendapat,\u201d kata sosok yang tinggal di Kota Mwanza, Tanzania, ini.<\/p>\n<p>Di sela pidatonya, SBY menanggapi pernyataan Rakesh. Presiden mengatakan berusaha membangun komunikasi langsung dengan rakyat lewat berbagai jalur. Yakni, secara <em>online <\/em>lewat <em>website<\/em> LAPOR! yang dikelola Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), menampung surat lewat PO Box 9949, lewat SMS 9949, juga <em>Facebook <\/em>dan <em>Twitter.<\/em> SBY menyebut dirinya setiap tahun menerima lebih dari 100 ribu surat, 3,5 juta SMS, 5 juta followers di <em>Twitter<\/em>, dan 2,7 juta teman di <em>Facebook<\/em>. \u201dSaya disebut sebagai presiden dengan <em>followers<\/em> terbanyak kedua di dunia,\u201d kata SBY. Terbanyak pertama adalah Barack Obama.<\/p>\n<p>Komunikasi langsung dengan rakyat ini memang menjadi arus besar dalam pemerintahan yang kian terbuka. Ini pula yang menjadi tema besar konferensi ini, yakni Unlocking Innovative Openness: Impetus to Greater Citizen Engagement (Membuka Keterbukaan Inovatif: Memacu Ketelibatan Publik yang Lebih Luas).<\/p>\n<p>Konferensi di Bali itu oleh Kuntoro Mangkusubroto, ketua UKP4, disebut sebagai <em>megibung<\/em>. Dalam tradisi Bali, <em>megibung<\/em> adalah berkumpul bersama mengelilingi nampan makanan dan berbicara satu sama lain dengan guyup. \u201dNamun, tak hanya makan, di konferensi ini kita megibung untuk mencari solusi,\u201d kata penggagas penting <em>open government<\/em> Indonesia itu.<\/p>\n<p>Pertemuan semacam \u201d<em>megibung<\/em>\u201d itu memang bisa dianggap efektif dalam komunikasi pemerintahan. Bupati Bojonegoro Suyoto, yang juga diundang berbicara dalam sesi diskusi tematik soal keterbukaan fiskal di konferensi ini, mengisahkan upayanya terus berdekatan dengan rakyat. Bupati wilayah kaya migas ini termasuk memanfaatkan <em>Black<\/em><em>Berry<\/em> untuk menginformasikan perkembangan situasi wilayahnya dan menebar inspirasi.<\/p>\n<p>\u201dMeski ada teknologi komunikasi, saya tetap menganggap tatap muka langsung dengan warga sangat luar biasa manfaatnya,\u201d kata Suyoto yang berbicara bersama David Gentry (penasihat IMF), Malou Mangahas (jurnalis invertigator Filipina), Murray Petrie (pakar teknis organisasi GIFT), dan Joko Purwanto (Bojonegoro Institute). Sang bupati sudah enam tahun ini mentradisikan tatap muka langsung dengan warganya di pendapa.<\/p>\n<p>Di sana bupati menghadirkan pejabat kabupaten untuk mendengarkan langsung keluhan masyarakat. Selain itu, pemerintah menggali inspirasi dan ide dari usul masyarakat. \u201dSetelah tiga tahun, saya di pinggir saja. Yang di depan para pejabat teknis terkait,\u201d kata bupati setelah diskusi di forum. Terkait dengan berbagai pengalaman memerintah, termasuk keterbukaan langsung itu, dia pernah diundang untuk berbagi pengalaman di Filipina, Ghana, bahkan Amerika Serikat.<\/p>\n<p>Selain mendapat banyak inspirasi inovasi, Suyoto menilai tatap muka langsung juga bisa mencegah terjadinya korupsi. Karena percakapan disaksikan langsung di depan umum, menatap langsung wajah rakyat, pejabat pemeritah harus serius dalam akuntabilitas. \u201dMereka tidak berani main-main,\u201d kata pejabat berlatar dosen ini.<\/p>\n<p>Pemerintah daerah lain yang turut menceritakan pengalamaannya di Konferensi OGP Asia Pasifik ini adalah Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Dia dikenal sebagai kepala daerah yang melesat cepat popularitasnya, termasuk karena kegetolannya memaksimalkan jejaring sosial. <strong>(roy\/dadan\/www.jpipnetwork.id)<\/strong><\/p>\n<h3 style=\"text-align: center;\">Sopir Siap Jadi Montir<\/h3>\n<figure id=\"attachment_1255\" aria-describedby=\"caption-attachment-1255\" style=\"width: 459px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"1255\" data-permalink=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/?attachment_id=1255\" data-orig-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/multitasking.jpg\" data-orig-size=\"682,400\" data-comments-opened=\"0\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"multitasking\" data-image-description=\"\" data-image-caption=\"&lt;p&gt;MULTITASKING: Robert Blake dan Ridwan Kamil (kanan).&lt;\/p&gt;\n\" data-medium-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/multitasking-300x176.jpg\" data-large-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/multitasking.jpg\" class=\" wp-image-1255\" src=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/multitasking-300x176.jpg\" alt=\"\" width=\"459\" height=\"269\" srcset=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/multitasking-300x176.jpg 300w, https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/multitasking.jpg 682w\" sizes=\"auto, (max-width: 459px) 100vw, 459px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1255\" class=\"wp-caption-text\">MULTITASKING: Robert Blake dan Ridwan Kamil (kanan).<\/figcaption><\/figure>\n<p>GAYA memerintah Ridwan Kamil menarik perhatian panitia Konferensi Open Government Partnership (OGP) Regional Asia Pasifik. Sosok itu sering disebut menang mengejutkan dalam pemilihan wali kota Bandung karena faktor media sosial berbasis internet sebagai alat kampanyenya. Wali kota yang mulai bekerja pada 16 September 2013 tersebut juga menjadi kepala daerah yang diminta berbagi inspirasi dalam sesi diskusi kisah dari pemerintahan yang transparan dan akuntabel.<\/p>\n<p>Sebagai kelanjutan kisah sukses kampanyenya, Ridwan siap menerima banjir kritik dan keluhan ketika meluncurkan program 5.000 area <em>hotspot wifi<\/em> se-Bandung. \u2019\u2019Saya mewujudkan mimpi Bandung menjadi kota yang paling terkoneksi,\u201d kata Ridwan yang berbicara bersama Dubes AS Robert Blake, Direktur Eksekutif Pattiro Sad Dian Utomo, Direktur Eksekutif Open Development Kamboja Th y Try, mantan Menteri Nepal Vidyahar Mallik, dan tokoh lingkungan GIZ Arpana Daz.<\/p>\n<p>Menurut Kamil, kita mengkritik, mengadu, termasuk memberikan solusi atas banyak persoalan. Dengan demikian, keterbukaan bukan barang yang mahal lagi, tetapi memang menjadi kebutuhan bagi kemajuan kota. Bagi dia, membangun kota harus didasari kesepakatan dua arah antara pemerintah dan warganya. \u2019\u2019Hal ini menjadi ruang demokrasi baru yang <em>real time<\/em>,\u201d kata wali kota berlatar arsitek tersebut.<\/p>\n<p>Yang melatarbelakangi hal itu, menurut dia, sederhana. \u2019\u2019Tidak mungkin mewujudkan mimpi peradaban yang canggih tanpa infrastruktur. Infrastruktur dasar itu adalah akses literasi terhadap internet,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Sebagai kota dengan banyak perguruan tinggi, banyak mahasiswa yang mengapresiasi karena bisa mengerjakan tugas di taman. Ke depan kita ingin menggunakan teknologi untuk segala urusan publik. Setiap warga secara <em>mobile<\/em> dengan kesibukan pribadinya tetap terlibat dalam urusan publik dan pemerintahan.<\/p>\n<p>Untuk menghadapi kendala keterbatasan kapasitas pemerintahan, Ridwan mulai menyelesaikannya dari lapangan. Setiap hari dia berkeliling dan bekerja sampai larut malam agar mengetahui persoalan riil yang dihadapi. \u2019\u2019Dalam hal ini, sebagai sopir saya harus pula menjadi montir. Sebagai wali kota, saya tidak hanya memimpin di depan, tetapi terkadang harus ke belakang, ke tengah, turun langsung jadi montir untuk menangani persoalan yang ada,\u201d kata Ridwan.<\/p>\n<p>Untuk mengubah kultur, setahun harus ada perubahan kultur baru. Untuk mengukur itu, saya membuat rapor camat dan lurah. Semua pejabat harus punya <em>target oriented<\/em> program. Ada evaluasi per tiga bulan.<\/p>\n<p>\u2019\u2019Target saya dalam tiga tahun kultur keterbukaan ini harus terlembagakan dalam bentuk perda. Dengan begitu, siapa pun yang menjadi wali kota, keterbukaan pemerintah tetap dilakukan,\u201d jelas wali kota yang gemar bersepeda tersebut. <strong>(dadan\/www.jpipnetwork.id)<\/strong><\/p>\n<p>Arsip PDF :\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"1235\" data-permalink=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/?attachment_id=1235\" data-orig-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/JPIP-USAID.jpg\" data-orig-size=\"713,116\" data-comments-opened=\"0\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"JPIP USAID\" data-image-description=\"\" data-image-caption=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/JPIP-USAID-300x49.jpg\" data-large-file=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/JPIP-USAID.jpg\" class=\"alignnone  wp-image-1235\" src=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/JPIP-USAID-300x49.jpg\" alt=\"\" width=\"399\" height=\"65\" srcset=\"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/JPIP-USAID-300x49.jpg 300w, https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/JPIP-USAID.jpg 713w\" sizes=\"auto, (max-width: 399px) 100vw, 399px\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Open Government Partnership Asia-Pacifi c, 6-7 Mei 2014 Mengeratkan keterbukaan agar menjawab permasalahan konkret masyarakat kian jadi tuntutan. Ada empat ciri pemerintah terbuka. Berikut laporan dari Konferensi OGP di Bali kemarin. NAMANYA memang Open Government Partnership (OGP) atau Kemitraan Pemerintahan Terbuka. Namun, selain wakil pemerintah, dalam organisasi ini ada \u201dwakil\u201d warga, yakni civil society organization [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":1254,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[36,1,12,7],"tags":[171,205,181,207,185,187],"class_list":["post-1252","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akuntabilitas","category-umum","category-pelatihan-dan-seminar","category-publikasi","tag-akuntabilitas-siap-ii","tag-dadan-s-suharmawijaya","tag-jpip-usaid","tag-ogp","tag-rohman-budijanto","tag-ukp4"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/jpipnetwork.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/listening-goverment.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1252","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1252"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1252\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1258,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1252\/revisions\/1258"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1254"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1252"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1252"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jpipnetwork.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1252"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}